Hardiknas 2025, Ajeng Wira Wati Berharap Kualitas Pendidikan Surabaya Meningkat

banner 970x250

 

Pendidikan di Surabaya: Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

CAKYEBE.ID – Setiap tahun, masyarakat Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang berjasa besar dalam membangun sistem pendidikan nasional. Tahun ini, tema peringatan Hardiknas 2025 adalah “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” yang menekankan pentingnya kolaborasi antar elemen masyarakat dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas.

banner 970x250

Ajeng Wira Wati, anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Gerindra, menyampaikan harapan agar kualitas pendidikan di Surabaya terus meningkat, terutama dari segi kompetensi dan moral guru. Menurutnya, guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi panutan bagi siswa.

Peran Guru dalam Membentuk Masa Depan

Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, mereka harus memiliki kompetensi yang tinggi serta nilai moral yang baik. Ajeng menekankan bahwa setiap tahun, kualitas guru jangan sampai menurun, melainkan harus semakin meningkat.

Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan kompetensi dan moral guru secara berkelanjutan. Selain fokus pada beban kerja sehari-hari, sekolah perlu memperhatikan aspek kualitas guru secara keseluruhan.

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Ajeng mengecam keras segala bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan, terutama jika dilakukan oleh guru. Ia menilai bahwa guru membutuhkan pembinaan emosional dan kesehatan mental, mengingat tantangan pendidikan yang semakin kompleks akibat paparan digital dan tekanan kerja.

Kebutuhan Guru dan Kolaborasi Antarpemangku Kepentingan

Masalah utama yang masih dihadapi Dinas Pendidikan Surabaya adalah kekurangan sumber daya manusia, khususnya guru. Ajeng menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam memenuhi kebutuhan guru, termasuk guru pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK).

Ia mengusulkan adanya pendataan ulang oleh Dispendik terkait kebutuhan guru untuk tahun ajaran 2025 dan rekrutmen PPPK ke depan. Saat ini, jumlah guru pendamping disabilitas masih sangat minim, padahal anak-anak disabilitas belajar bersama siswa reguler dan membutuhkan perhatian khusus.

Bullying dan Penyebabnya

Masih ada kasus bullying terhadap siswa disabilitas, yang menurut Ajeng dapat terjadi karena belum optimalnya pemenuhan guru pendamping. Meski bullying tidak boleh ditoleransi, ia menegaskan bahwa jumlah guru pendamping yang belum cukup juga menjadi faktor penyebabnya.

Kolaborasi untuk Pendidikan yang Lebih Baik

Ajeng berharap Dinas Pendidikan dapat menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Kolaborasi ini diharapkan mencakup aspek pendidikan, kesehatan, serta dukungan sosial secara menyeluruh, agar kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus dapat terpenuhi secara holistik dan berkelanjutan. [@]

 

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *